9 Hari Traveling ke Vietnam – Da Nang [3]

traveling ke Da Nang Vietnam
Bagikan artikel:

Hari Keempat – Hanoi dan Da Nang

Hari keempat solo traveling ke Vietnam: dari Utara ke Selatan, gue traveling ke Da Nang. Da Nang ini merupakan kota ketiga terbesar di Vietnam, setelah Ho Chi Minh City dan Hanoi. Lokasinya persis berada di bagian tengah Vietnam. Ada beberapa moda transportasi yang bisa kalian gunakan, dari bus, kereta api, hingga pesawat. Nah, karena gue lebih memilih efisiensi waktu, perjalanan gue ke Da Nang menggunakan pesawat.

Jalan-jalan Pagi di Old Quarter dan Hoan Kiem Lake

Sebelum traveling ke Da Nang, paginya gue berniat untuk mengeksplorasi lagi Old Quarter area karena keberangkatan pesawat masih lama. Pagi hari di Old Quarter area cukup bising, dimana bunyi klakson kendaraan sering dijumpai, hal ini karena banyak sekali warga sekitar melakukan aktifitas pagi hari. Banyak sekali gue jumpai para pendagang keliling menggunakan sepeda atau tanggungan untuk menjual dagangan mereka, baik dari sayuran, buah-buahan, hingga bunga.

Setelah sekitar sejam-an gue berkeliling di Old Quarter area, gue singgah sebentar di Cong Caphe. Local coffee shop yang sudah menjamur di Vietnam. Banyak sekali jenis minuman yang ditawarkan, dari coffee, sweet beverages, hingga sweetener. Gue sendiri mencoba coconut coffe, yang merupakan minuman khas Cong Caphe.

Bagi kalian yang suka kopi memiliki rasa manis, coconut coffee ini sangat cocok untuk selera kalian. Kopi yang disajikan seperti affogato ini, disajikan dengan toping es kirm vanila dan serutan kelapa di dalamnya. Lumayanlah, bisa untuk me-refresh badan yang sudah lelah mengelilingi Old Quarter. Harga coconut coffee ini sekitar 45,000 VND. Cukup pricey dibandingkan dengan egg coffee yang gue pernah coba di hari pertama.

Cong Caphe yang gue kunjungi ini lumayan terkenal. Lokasinya tepat berada di depan gereja St. Joseph’s Cathedral, salah satu attraction di Hanoi. Jika kalian berkunjung ke kafe ini, gue suggest untuk pilih kursi dilantai dua. Ambiencenya enak banget di lantai dua, less crowded. Kalian bisa juga menikmati suasana orang berlalu-lalang mengunjungi gereja St. Joseph’s Cathedral, dan melihat hecticnya aktifitas orang-orang di Old Quarter. Interior Cong Caphe pun unik banget, bagus untuk berswafoto maupun dijadikan konten media sosial.

Setelah menikmati segelas coconut coffee di sini, gue melanjutkan eksplorasi menuju St. Joseph’s Cathedral. Sebenarnya ga ada tiket masuk sama sekali kesini. Namun kalian diharapkan untuk memberikan donasi seikhlasnya kalian, yang akan digunakan untuk pemeliharaan gereja.

Arsitektur gereja St. Joseph’s Cathedral cukup unik, yang dimana mengusung konsep gothic ala ala bangunan Eropa pada jaman dulu. Baik di dalam maupun di luar St. Joseph’s Cathedral, banyak sekali spot photo yang bagus. Terkadang, St. Joseph’s Cathedral ini digunakan untuk pra-wedding bagi Vietnamese.

Lanjut dari St. Josep’s Cathedral, gue melanjutkan eksplorasi menuju danau Hoan Kiem. Banyak sekali warga lokal yang beraktifitas disini, baik weekend maupun weekdays. Dari orang melakukan rutinitas olahraga, kegiatan komunitas seni, hingga nongkrong dan menikmati pemandangan danau Hoan Kiem.

Gue sendiri cuma tok jalan-jalan santai mengitari danau Hoan Kiem. Sesekali duduk di bangku taman sambil melihat pemandangan danau dan sarapan bahn mi yang gue pesen sebelumnya. Cukup lama gue nongkrong dan bengong di sini, sambil menghabiskan waktu dan menunggu jadwal penerbangan yang masih lama.

Menuju Terminal Domestik Noi Bai Airport

Setelah cukup puas menikmati suasana di danau Hoan Kiem, gue pun balik lagi ke hostel untuk melakukan check out. Itung-itung antisipasi waktu dan ingin datang ke bandara Noi Bai lebih awal.

Dari hostel, gue pun berjalan kaki menuju halte terdekat yang merupakan jalur bus Bandara Noi Bai no. 86. Sesuai arahan dari Google Maps, gue diarahin ke halte dekat danau Hoan Kiem. Tidak terlalu jauh dari hostel untungnya, cuma 10 menit aja dengan berjalan kaki.

Awalnya gue sempet ragu ketika sudah sampai di halte ini, karena tidak ada bus bandara Noi Bai 86 di daftar bus yang akan berhenti di halte ini. Namun gue coba tunggu aja dan percaya Google Maps, toh gue masih punya banyak waktu sebelum penerbangan.

Sudah sekitar 30 menit-an gue menunggu, namun bus Bandara Noi Bai 86 pun tak kunjung datang. Tiba-tiba ada seorang bapak paruh baya menghampiri dan menepuk bahu gue. Beliau menanyakan asal gue dari mana dan mau kemana. Mungkin karena gue terlihat kebingungan kali ya, bapak ini jadinya perhatian.

Beruntung, selain beliau lumayan fasih berbahasa Inggris, bapak yang satu ini baik banget. Berawal dari obrolan ringan, beliau pun membantu gue untuk menanyakan ke warga lain yang berada di sekitaran halte mengenai rute bus Noi Bai 86 ini. Ternyata, beliau juga bukan merupakan warga asli Ha Noi. Beliau tinggal di kota sub-urban dekat Ha Noi dan kebetulan sedang mengunjungi anaknya yang sedang mencari mata pencaharian di kota ini.

Sesekali beliau membantu menanyakan rute bus Noi Bai 86 ke kondektur bus yang singgah di halte ini. Bisa dibilang rute Noi Bai 86 ini masih baru, makanya beberapa warga lokal masih belum familiar juga. Btw, gue memanggil bapak paruh baya ini sengaja dengan kata “beliau“, karena rasa hormat gue terhadap beliau. Beliau tidak segan untuk menolong stranger, yang baru pertama kali bertemu dan juga bukan warga asli Vietnam.

Alhasil, halte ini sebenernya bukan halte pemberhentian bus 86. Halte yang benar itu ada sekitar 300-400 m setelah halte ini. Namun bus bandara Noi Bai 86 melewati jalur halte ini. So, Google maps mengarahkan ke halte ini karena jaraknya lebih dekat dari hostel gue menginap. Selain itu, bus bandara Noi Bai 86 pun memiliki interval waktu yang cukup lama, sekitar 45-60 menit. So, kalian sabar-sabar aja kalau menunggu bus ini di halte.

Lalu bapak paruh baya ini menginstruksikan gue untuk melambaikan tangan ketika bus Noi Bai 86 lewat. Mirip sekali kalau kalian ingin menaiki kopaja di Jakarta. Terima kasih bapak bantuannya!

Baca Juga: Rute Bus 86 dari Noi Bai Airport ke Pusat Kota Hanoi dan Stasiun Hanoi

Nah, dari kejadian ini gue dapat hikmah yang bermanfaat saat bertraveling. Selama melakukan perjalanan, kalian jangan lupa untuk selalu berbuat baik kepada orang sekitar maupun sesama traveller yang mungkin nanti bertemu saat di perjalanan. Karena dengan berbuat baik, kita pun akan mendapat karma yang baik juga. Tetiba ada aja bantuan yang tidak akan pernah kita disadari.

Inget tidak di cerita sebelumnya, ketika gue membantu grandma grandpa menunggu kapal di Halong Bay? Karma baiknya langsung gue dapat di hari selanjutnya, which is kejadian di atas dimana gue dibantu banget sama bapak paruh baya di atas.

While, perjalanan menuju terminal 1 (domestik) bandara Noi Bai memakan waktu tempuh sekitar 1 jam. Kalian harus bisa mengestimasi waktu sebaik mungkin, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Btw, rata-rata penumpang bus Noi Bai 86 ini merupakan turis western. Biasanya memiliki gaya backpacking seperti gue. Selama di perjalanan menuju bandara, persis di depan gue merupakan seorang bule cewe paruh baya yang sedang solo traveling juga. Ga sengaja, gue lihat dia sedang mengetikkan jurnal travelingnya di handphone candy bar. Harinya sudah memasuki hari ke 30-an cuyyyy.

Selama kepo dengan apa yang dia tuliskan di handphone candy barnya, terlintas gue memikirkan apakah nanti gue di umur paruh baya seperti dia, masih punya jiwa berpetualang yang masih tinggi? Dan bisa melakukan solo traveling lagi? Who knows! Tapi emang traveling sudah menjadi bagian gue. Apalagi gue yang gampang bosen ini, selalu ingin mencoba, mengeksplorasi, dan mengalami suasana yang baru.

Oh iya, penerbangan domestik gue ke Da Nang menggunakan airlines VietJet, salah satu low cost carrier yang bisa dibilang paling murah dibandingkan yang lain. Kalau kalian dapat harga promo, kalian bisa melakukan penerbangan domestik sekitar IDR 100rb-an. Sedangkan harga kelas ekonomi ada disekitar IDR 500rb-an.

Sesampai di terminal 1, gue langsung menuju area check-in counter dan melakukan self-check-in. Beruntung, karena gue beli tiket tanpa bagasi. Antrian check-in counter sangat panjang sekali, walaupun ada sekitar 9-10 counter.

Ada hal unik yang terjadi di terminal domestik Vietnam ini. Ketika melakukan security check, setiap orang wajib melepas sepatunya, khususnya sebelum memasuki boarding area. Hal ini bisa membuat antrian panjang juga, jadi kalian harus estimasi waktu juga untuk hal ini. Tapi untungnya terminal domestik Noi Bai tidak terlalu besar, jadi jarak dari area check-in ke boarding area ga terlalu jauh.

Setelah memasuki boarding area, gue menyempatkan diri untuk makan siang dan mencoba My Tom Bo. My Tom Bo ini kuahnya hampir mirip dengan Pho pada umumnya, yang membedakan hanya di jenis mie nya yang mirip seperti mie instant. Bo dari My Tom Bo ini memiliki arti daging sapi. Irisan daging sapinya pun cukup banyak. Ditambah dengan cabe dan jeruk nipis, bisa dibilang akan menambahkan citra rasanya. Soal harga, gue cukup bayar 50,000 VND aja.

Mendarat di Da Nang

Penerbangan dari Ha Noi ke Da Nang bisa dibilang sangat sebentar. Sekitar 50 menit gue berada di atas langit Vietnam. Da Nang ini masih didominasi oleh dataran warna hijau sedangkan dataran betonnya hanya terlihat di sekitaran pusat kota. Sebelum mendarat, langit senja Da Nang serasa menyambut kedatangan gue hahaha.

Sesampai di bandara internasional Da Nang, gue langsung memesan Grab Car karena langit sudah mulai gelap. Dengan adanya language barrier, gue sebisa mungkin menjelaskan lokasi penjemputan dan pakaian yang gue gunakan dengan bahasa Inggris yang sesederhana mungkin kepada driver. Tarif Grab Car di Vietnam bisa dibilang cukup terjangkau. Perjalanan menuju hostel cuma keluar 61,000 VND aja, dengan jarak sekitar 3-4 km.

Gue menginap di Memory hostel selama di Da Nang. Harganya terjangkau banget, cuma 107,000 IDR sewaktu gue booking di OTA. Hostelnya terlihat nyaman dan Instagram-able banget. Harga sudah termasuk breakfast juga loh. Selain itu, lokasinya pun sangat strategis, tidak jauh dengan sungai Han dan Da Nang Cathedral.

Source: Traveloka.com

Menjajal Com Ga khas Da Nang

Setelah rebahan dengan cukup, gue lanjut cari makan malam. Sewaktu di Indonesia, memang sudah ngincer makanan khas Vietnam Tengah sebenernya. Hal ini karena makanannya beda sekali dengan kota Ha Noi maupun Ho Chi Minh City.

Di sekitaran hostel gue menginap, banyak sekali kedai makanan dan streetfood yang berjualan. Dari hasil research sebelumnya, ada streetfood yang tidak jauh dari hostel, yang menjual com ga, atau nama internasionalnya chicken rice.

Com ga ini lumayan identik dengan nasi hainan, dimana rasa nasinya mirip sekali. Yang membedakannya, yaitu ayamnya digoreng dan nasinya berwarna kekuning-kuningan. Com ga khas Da Nang ini porsinya ga nanggung. Ukuran potongan ayamnya aja hampir setengah ekor. Bisa kali untuk 2 porsi cewek.

Selain itu, com ga khas Da Nang ini disajikan dengan tambahan sop sayur sehingga bisa menghilangkan rasa serat juga. Kalian bisa menambahkan kecap asin ataupun sedikit sambal, agar rasanya lebih flavourous. Gue beli satu porsi com ga plus soft drink sekitar 70,000 VND.

Menyusuri Han River dan Dragon Bridge

Setelah makan com ga yang porsinya ga karuan, gue pun berencana jalan santai di sekitaran sungai Han. Lumayan, itung-itung bakar lemak. Da Nang ketika malam hari sangatlah cantik, banyak sekali bangunan dan beberapa landmark dihiasi lampu-lampu LED yang berwarna-warni. Cahaya-cahayanya pun terefleksi ke sungai Han, seakan menari-nari di atasnya. Las Vegas on the southeast lah menurut gue, soalnya vibenya kaya kota kasino.

Gue pun lanjut menyusuri tepian sungai Han, dan mengarah langsung ke Dragon Bridge. Walaupun pada waktu itu hari senin malam, banyak sekali orang-orang yang beraktifitas di tepian sungai Han. Baik dari orang-orang yang sedang latihan tari salsa, anak-anak bermain street football, hingga ada pameran photography.

Tidak terasa, gue udah berjalan sejauh 1 km-an dari tempat makan tadi. Malahan sudah mendekati Dragon Bridge. Gue coba menyebrangi sungai ke sisi lain, melalui Dragon Bridge ini. Soalnya disebrang ada attraction semacam Merlion di Singapore, nama areanya DHC Marina.

Ada kali gue berjalan sejauh 2-3 km-an. Namun lelah tidak terasa, karena gue sambil hunting beberapa photo di sekitaran Dragon Bridge ini. Lumayanlah untuk menambah stok photo yang bakalan gue upload di media sosial.

Gue pun beristirahat sejenak di DHC Marina, banyak sekali restoran di sekitaran area ini. Namun gue cuma memesan minuman kalengan dari pedagang kaki lima. Itung-itung irit.

Sekitar 1.5 jam lamanya, gue menyisir sungai Han hingga menuju area DHC Marina. Gue pun berencana balik lagi ke hostel. Cuman ya pe-er banget kalo jalan lagi sekitar 2-3 km-an hahaha.

Akhirnya gue pun pesen Grab Bike, biar ga terlalu cape. Anyway, gampang sekali order Grab di Da Nang, walaupun waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Hal ini karena jarang sekali ada public transportation dalam kota, selain taksi dan Grab.

Tarif Grab Bike di sini sangat murce (murah ceria). Perjalanan balik ke hostel cuma bayar 12,000 VND, dengan jarak sekitar 2-3 km. Sebelum ke hostel, gue singgah dulu ke minimart buat beli persediaan road trip besok. Exploring Da Nang.

Hari Kelima – Da Nang

Hari kelima di Vietnam, gue lebih fokus mengunjungi beberapa attraction dan sightseeing di Da Nang. Jarak antar attraction di Da Nang pun cukup berjauhan. Gue suggest sih untuk menyewa mobil atau motor biar lebih gampang mobilitasnya. Seperti yang gue bilang di atas, Da Nang ini masih belum ramah transportasi publik untuk di dalam kota.

Gue sendiri lebih prefer sewa motor, karena lebih ramah di kantong untuk solo traveller. Sebenernya di Da Nang bisa menggunakan aplikasi transportasi seperti Grab, namun gue ga bisa jamin si driver grab mau ambil orderan. Karena beberapa lokasi attraction tidak selalu ramai orderan.

Sebelumnya, gue breakfast terlebih dahulu di Memory Hostel. Sekalian, gue explore hostel dan ambil beberapa photo suasana dan lingkungannya. Di tiap lantai, selalu tersedia cardboard yang menempel di dinding. Kalian bisa menuliskan pesan dan kesan di sini. Tentu aja, gue tulis pesan dan kesan di cardboard ini ini, sebagai simbolis gue pernah mengunjungi Memory Hostel.

Setelah itu, gue pun check-out terlebih dahulu, sekalian titip barang bawaan juga sebenernya. Karena pada hari yang sama, gue bakal traveling ke kota Hoi An di sore harinya. Oh iya, mereka pun menyewakan motor juga. Gue sekalian sewa di sini juga, karena hassle free. Harga sewanya pun ekonomis, cuma 90,000 VND untuk 6 jam.

Fakta menarik seputaran akomodasi di Da Nang, biasanya mereka suka menyediakan tour juga ke beberapa attraction, seperti tour ke BaNa Hills, Marble Mountains, maupun ke Linh Ung Pagoda.

Road Trip di Da Nang

Road trip di Da Nang ini bisa dibilang sifat introvert gue berkoar-koar. Jarang sekali ada interaksi dengan orang baru ataupun stranger selama perjalanan dan di lokasi wisata. Bisa dibilang trip kali ini lebih memanjakan peace of mind gue, ga ada drama seperti di cerita Ha Long Bay sebelumnya.

Pas pertama kali mengendarai motor di Vietnam, bisa dibilang agak kagok. Hal ini karena Vietnam memiliki lajur yang berbeda dengan Indonesia. Mereka menggunakan lajur kanan untuk semua kendaraan.

Sebelum exploring Da Nang, gue harus melipir dulu ke pom bensin untuk isi petrol. Sewa motor di sini biasanya emang kosongan tangkinya. Gue isi petrol sekitar 40,000 VND, kurang lebih 2 liter.

Destinasi pertama yang gue eksplorasi yaitu My Khe beach. Gue eksplorasi sambil mengendarai motor di sepanjang garis pantainya. Sumpahhhhh, jalanan dan bangunan di Da Nang sangat tertata rapi dan bersih. Yang gue tau, memang ada kerjasama antara pihak pemerintah lokal dan swasta, untuk menjadikan Da Nang sebagai kawasan wisata baru.

Mengunjungi My Khe Beach

Setelah menyusuri garis pantai di Da Nang, gue coba berhenti sejenak dulu untuk menginjaki pantai My Khe. Terlihat barisan hotel menjulang along the coast. Penataan pepohonan di sepanjang garis pantai sangatlah rapi. Di sini gue cuma jalan-jalan santai aja, sekaligus mengambil beberapa photo.

Ga terlalu lama gue menikmati pantai My Khe. Selanjutnya gue mengendarai motor menuju ke arah perbukitan di daerah Son Tra Peninsula. Btw, ini pertama kalinya gue mengendarai motor di luar negeri (tanpa SIM internasional juga). Every first experience is always exciting. Gue sangat menikmati road trip ini.

Jalanan menuju Son Tra Peninsula cukup lengang dan sedikit sekali kendaraan. Hal ini tidak membuat gue untuk melaju motor dengan kencang, karena ingin menikmati momen ini sesantai mungkin. Hantaman angin kecil ke dada dan sambil menikmati pemandangan garis pantai di sebelah kanan, membuat pikiran dan hati terasa tenang. Cuaca pun sangat mendukung karena sedang berawan. Kapan lagi gue merasakan momen seperti ini, jarang banget gue dapet di Jakarta. Sesekali gue berhenti di bahu jalan untuk mengambil beberapa photo.

Mengunjungi Linh Ung Pagoda

Selanjutnya gue mengunjungi Linh Ung Pagoda. Hanya berjarak 9 km atau waktu tempuh 20 menit dari pusat kota Da Nang. Linh Ung Pagoda ini merupakan pagoda terbesar di Kota Da Nang dalam skala maupun seni arsitekturnya. Linh Ung Pagoda mempunyai gaya kontemporer yang dikombinasikan dengan traditional art Vietnam, dengan atap yang melengkung dalam bentuk naga dan pilar padat dikelilingi oleh naga yang berliku.

Di Linh Ung Pagoda terdapat patung Lady Buddha yang terbuat dari marble stone. Lady Buddha ini dianggap sebagai patung Buddha tertinggi di Vietnam. Memiliki tinggi sekitar 67m, atau setara dengan bangunan 30 lantai. Patung Lady Buddha ini menjulang dan terlihat dari kejauhan. Sewaktu gue jalan-jalan santai di pantai My Khe pun sudah kelihatan, walaupun jaraknya cukup jauh sekitar 7 km.

Oh iya, kalian tidak perlu perlu beli tiket masuk untuk mengunjungi Linh Ung Pagoda. It’s free. Tapi setidaknya kita diharapkan berdonasi untuk membantu pemeliharaan Pagoda. Jika kalian membawa kendaraan, harap membawa uang cash ya untuk bayar uang parkir.

Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan di sini, gue sendiri cuma hunting photo aja. Mengingat arsitektur dari Pagoda ini sangat unik, bisa jadi bahan konten media sosial.

Menikmati Pemandangan Kota Da Nang di Ban Co Peak

Ban Co Peak merupakan sebuah bukit di Son Tra Peninsula, dan bukan tempat wisata terkenal seperti BaNa Hills ataupun Linh Ung Pagoda. Kebanyakan hanya local people aja yang datang ke sini. Berada diketinggian 693m di atas permukaan laut, kalian bisa menikmati indahnya kota Da Nang in the top of hills.

Estimasi tempuh sekitar 30 menit menggunakan motor, atau sekitar 13 km dari Linh Ung Pagoda. Selama perjalanan, kalian bisa menikmati pemandangan indah Semenanjung Son Tra, disertai pesisir pantai putih dan bukit-bukit yang menjulang. Cahaya matahari dan hantaman angin laut bercampur membuat perjalanan ke Ban Co Peak semakin berkesan emosional. Gue tidak sama sekali merasa cape maupun kegerahan. Exhale~ Inhale~. Waktu terasa jadi lambat selama road trip ini.

Selama perjalanan kalian akan menemukan beberapa resort yang bagus, bunga-bunga yang bertaburan di jalanan, dan juga pohon-pohon rindang ketika memasuki kawasan bukit. Jalanan menuju Ban Co Peak cukup berliku, apalagi kalau sudah memasuki area bukit. Jalan pun semakin menyempit.

Sesampai di atap bukit Ban Co Peak, kalian akan melihat hamparan bangunan yang menjulang tinggi, dan beberapa jembatan yang membentang di sungai Han. Garis pantai My Khe yang begitu cantik, disertai dengan kapal-kapal nelayan yang terombang-ambing.

Mencoba Kue Tradisional Khas Vietnam: Bánh Nèo bà

Dari Ban Co Peak, gue coba balik lagi ke pusat kota Da Nang untuk cari makan siang. Tujuan selanjutnya yaitu mencoba makan kue tradisional khas Vietnam di Bánh Bèo Bà. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hostel gue menginap. Oh iya, kata Bánh ini memiliki arti cake atau kue. Tapi jangan harap, kuenya memiliki rasa manis.

Sesampai di sini, gue langsung di kasih menu yang ukurannya lebih besar sedikit dari ukuran kartu nama. Menunya cuma ada 6 buah doang soalnya. Gue coba pesan Bánh Nam dan Bánh Ram, sesuai rekomendasi dari reviewer di Tripadvisor.

Cici-cici yang punya toko ini sangat baik, dia coba mempraktekkan cara makannya, dengan menggunakan bahasa tubuh. Bánh Ram yang gue pesan ini memiliki rasa seperti coipan, dan ditaburi juga bawang goreng di atasnya. Teksturnya aja yang membedakkan, seperti bentuk siomay. Nah, kalau Bánh Nam ini bisa dibilang mirip lontong kecil, yang isinya udang. Ditambah sedikit racikan cabe, gurihnya mantep sekali. Lazisss~

Lagi enak-enaknya makan Bánh ini, tetiba cici penjualnya nawarin dua jenis Bánh yang lain. Sekaligus menjelaskan cara makannya. Pinter banget nih si cici cara upsellingnya hahaha. Tapi gapapa, karena harga tiap menu Bánh ini cuma 10,000 VND aja.

Habis dari sini, gue pun balik lagi ke hostel untuk mengembalikan motor dan juga mengambil barang bawaan. Karena, perjalanan gue selanjutnya bakal ke kota Hoi An, city of thousand lanterns.

Mengunjungi Da Nang Cathedral

Setelah mengambil barang, gue pun menuju ke Da Nang Cathedral, yang cuma beberapa langkah dari Memory Hostel. Tepat di depan cathedral ini terdapat halte kecil yang selalu dilalui bus umum tujuan ke Hoi An. Sebenarnya, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa kalian gunakan menuju Hoi An, detailnya kalian bisa baca artikel gue di bawah ini.

Baca Juga: Cara dan Transportasi dari Da Nang ke Hoi An Ancient Town

Sambil menunggu bus tujuan Hoi An, gue pun coba hunting beberapa photo di Da Nang Cathedral. Gereja ini bisa dibilang salah satu gereja unik dan Instagramable di Vietnam. Banyak turis juga loh yang sengaja singgah ke gereja ini untuk berswafoto. Gereja ini memiliki gaya khas kolonialisme bangunan Prancis, yang dipadukan dengan warna cat merah muda, yang menjadikan gereja ini keliatan feminim.

Setelah puas mengambil photo Da Nang Cathedral dari berbagai sudut, gue pun langsung menuju halte kecil di depannya, untuk menunggu bus tujuan Hoi An.

Sekian cerita perjalanan gue selama di Da Nang. Sampai ketemu di cerita selanjutnya di Hoi An. To be continued….

Baca keseruan cerita gue lainnya saat traveling ke Vietnam di bawah ini:

  1. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Hanoi [1]
  2. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Ha Long Bay [2]
  3. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Da Nang [3]
  4. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Hoi An [4]
  5. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Ho Chi Minh City [5]

Kalian bisa baca juga artikel seru lainnya mengenai Da Nang Vietnam disini: Da Nang Stories

Atau baca juga panduan yang gue buat ketika traveling ke Vietnam disini: Panduan Lengkap Traveling ke Vietnam

You may also like

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *