9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Hanoi [1]

traveling ke Vietnam Hanoi
Bagikan artikel:

Traveling ke Vietnam. Ada banyak sekali alasan kenapa gue pengen berkunjung ke negara ini, baik dari Vietnamese food, pemilik UNESCO World Heritage terbanyak di ASEAN, sejarah Vietnam War, hingga ingin mencoba berkunjung ke negara yang language-barrier nya masih kental. Cukup lama planning dan persiapan yang gue buat sebelum traveling ke Vietnam, mungkin ada sekitar 6 bulan, dari mengumpulkan infomasi mengenai transportasi umum sampai mempelajari daily conversation ala Vietnam. Xin chào!

Vietnam menawarkan banyak sekali variasi attraction atau tempat wisata, mulai dari wisata alam, petualangan, budaya, sejarah, hingga pantai-pantai yang indah yang terbentang dari Vietnam bagian utara hingga ke bagian selatan. Gue sebenernya berharap bisa mengunjungi tiap kota di Vietnam, namun sayang karena keterbatasan waktu (lebih tepatnya jatah cuti), gue hanya mengunjungi kota Hanoi, Da Nang, Hoi An, dan Ho Chi Minh City saja. Kalian bisa baca juga list kota yang harus dikunjungi dan attraction nya, ketika berkunjung ke Vietnam di artikel di bawah ini.

Baca Juga: 9 Tempat Wisata di Vietnam yang Menarik Dikunjungi

Perjalanan gue ke Vietnam dimulai dari bagian utaranya terlebih dahulu, yaitu kota Hanoi. Vietnam bagian Utara memiliki pengaruh dan influence besar dari zaman kedinastian China. Sedangkan untuk tujuan akhir perjalanan di Vietnam, gue mengunjungi kota Ho Chi Minh City, atau masih sering disebut kota Saigon oleh penduduk setempat. Kota Saigon ini memiliki influence besar dari zaman imperialisme Perancis, banyak sekali bangunan yang memiliki gaya arsitektur Eropa disini. So, jika kalian traveling ke Vietnam dimulai dari bagian utara hingga ke bagian selatan, kalian seperti melakukan perjalanan waktu.

Oh iya, sebenarnya trip kali ini ke Vietnam gue solo travel, dan ini pengalaman kedua kalinya bagi gue. Sangat menantang sekali, karena Vietnam memiliki language-barrier yang masih sangat kental dibandingkan pengalaman pertama gue solo travel ke Melaka, Malaysia. Lah kok kenapa solo travel lagi? Trip ke Vietnam sebenernya gue udah mengajak massa dan teman untuk join, namun karena satu dan lain hal, teman travel gue ga jadi ikut. So, karena gue udah melakukan planning yang cukup lama, gue memberanikan diri lagi untuk solo travel ke negara yang ga terlalu fasih dengan bahasa Inggris ini.

Hari Pertama – Jakarta dan Kuala Lumpur

Di hari keberangkatan ke Vietnam sebenernya gue masih ngantor sampai sore, dikarenakan untuk menghemat jatah cuti hahaha. Jadi pas ke kantor udah sekalian bawa tas backpack dan segala barang yag dibutuhkan ketika solo travel ke Vietnam. Untungnya kantor gue berada di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan, sangat dekat dengan stasiun BNI City. Sekalian juga nyoba kereta bandara untuk pertama kalinya. Selain itu, gue sengaja pilih penerbangan malam, karena harga penerbangan biasanya lebih terjangkau dan bisa menghemat akomodasi. Gue bisa tidur di pesawat ataupun di bandara saat transit. Sebenarnya tips dan trik cara hemat ini tidak dianjurkan kalau kalian tidak mempunyai stamina dan fisik yang bugar.

Menggunakan kereta bandara Soekarno-Hatta untuk pertama kalinya

Habis kerjaan selesai, gue langsung pamitan ke boss dan rekan kerja, dan langsung pergi ke stasiun BNI City bareng mas-mas Gojek. Gue cukup terpukau ketika melihat stasiun BNI City, bentukannya udah kaya bandara. Stasiunnya masih sepi, mungkin karena baru ya. Proses pembelian tiketnya pun pake mesin, dan sangat cepat, tidak sampai semenit malahan. Yang kurang disini paling masih sedikit tenant untuk beli makanan dan minuman, padahal gue rencana coba ngemil makanan disini.

Oh iya, kereta bandara ini jadwal kedatangannya tiap setengah jam sekali. Waktu tempuh dari Stasiun BNI City sampai ke stasiun bandara sekitar 55 – 60 menit. Yang enak dengan kereta bandara ini, ada USB portnya loh. Lumayan sejam perjalanan bisa ngecharge daya baterai HP sekitar 50%. Sesampainya di stasiun bandara, kita diarahkan menuju Sky Train sebagai transit area sebelum menuju terminal bandara yang dituju. Stasiun bandara dan Sky Train ini berada di tengah antara Terminal 1 dan Terminal 2. Jika penerbangan kalian berada di Terminal 3, alangkah baiknya untuk spare waktu lebih banyak. Total waktu tempuh gue dari stasiun BNI City sampai ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menempuh waktu sekitar 90-100 menit.

Tidur sejenak di KLIA transit area

Sebelum menuju Hanoi, gue transit dulu di KLIA Malaysia. Sebenarnya ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Hanoi dengan menggunakan maskapai Vietnam Airlines, tapi untuk harganya masih lumayan pricey untuk sekelas backpacker kaya gue. Sampai di KLIA sekitar jam 12 malam waktu setempat dan gue langsung menuju area transit. Gue langsung cari fast food buat mengisi perut yang udah bawel dari sore.

Sehabis makan, gue langsung mencari spot untuk istirahat. Banyak sekali traveler yang bermalam di KLIA, biasanya lounge area menjadi tempat favorit untuk bermalam. Untungnya gue masih bisa mengamankan sofa di lounge area. Biasanya makin malam makin rame traveler beristirahat di sini. Tapi banyak juga loh traveler yang tidur di lantai, apalagi lantainya udah dilapisi karpet. Pada akhirnya, gue pun ikut tidur di lantai aja, karena di sofa kurang nyaman untuk tiduran.

tidur di KLIA Malaysia

Hari Kedua – Hanoi

Hanya 1,5 jam saja, waktu efektif gue buat tidur. Hal ini dikarenakan jam 4 waktu setempat, gue harus bersiap untuk check-in penerbangan ke Hanoi. Perasaan was-was akan takut ketinggalan pesawat, memaksakan gue memasang alarm 6 buah di handphone dengan interval waktu beda 2 menit doang. Sebelum melakukan check-in, gue sesempetnya breakfast dulu di McD.

Noi Bai International Airport Hanoi
Noi Bai International Airport Hanoi

Penerbangan dari KLIA ke Noi Bai International Airport (Hanoi) memakan waktu tempuh sekitar 3 jam. Terdapat 2 terminal di Noi Bai Airport, yang pertama untuk penerbangan internasional, dimana arsitektur dan fasilitasnya tidak kalah dengan terminal 3 Soekarno Hatta. Yang kedua, terminal untuk penerbangan dosmestik dengan menggunakan bangunan yang lama.

Sesampai di area kedatangan, gue langsung mencari tenant penukaran uang. Gue saranin sih mending kalian bawa dollar (USD) ke Vietnam aja, daripada tuker Rupiah ke Vietnam Dong di Indonesia. Rate dan nilai tukar USD sangat bagus di Vietnam, kalo di itung-itung, gue bisa dapet Vietnam Dong lebih banyak. Alangkah baiknya juga, kalian menukar semua USD di bandara, karena rate nya lebih bagus dibandingkan dengan kounter penukaran uang di pusat kota maupun bank. Oh iya, kalian tidak perlu mengatur waktu di jam tangan kalian lagi, karena Vietnam memiliki zona waktu sama dengan Jakarta (GMT+7).

Setelah itu, gue langsung cari kounter SIM card untuk kebutuhan komunikasi dan panjat sosial gue. Jika kalian melakukan traveling yang cukup lama di Vietnam dan ke berbagai kota, gue saranin sih beli SIM card merek Viettel, karena provider ini yang paling bagus di Vietnam. Bisa dibilang Viettel ini sekelas Telkomsel kalo di Indonesia, malahan lebih bagus lagi kecepatan koneksinya. Jangkauannya yang paling luas di Vietnam, dengan akses datanya pun udah 4G. SIM card Viettel plus unlimited internet data di Vietnam untuk 10 hari memiliki harga sekitar 200,000 VND.

Baca Juga: Panduan Lengkap Traveling ke Vietnam

Menggunakan Bus Express 86 ke Old Quarter

Setelah semua persiapan aman, gue langsung mencari transportasi umum yang bisa mengantarkan gue ke pusat kota Hanoi. Awalnya gue bingung, karena sedikit sekali petunjuk / signage yang bisa mengarahkan gue ke halte bus. Apalagi tulisan dari semua petunjuk kebanyakan berbahasa Vietnam. Akhirnya gue bertanya ke security bandara dengan bahasa alakadarnya.

Ternyata halte bus untuk tujuan pusat kota Hanoi (Old Quarter area), tepat berada di depan kiri area kedatangan. Kalian akan menemukan papan nama “Bus Stop” untuk bus nomor 86, jurusan Ga Hà Nội (Stasiun Hanoi) – Sân bay Nội Bài (Bandara Noi Bai). Nah disini, kalian tinggal tunggu bus warna orange dan bernomor 86. Biasanya interval kedatangan bus sekitar 25 menit. Kalian cukup merogoh kocek 30,000 VND atau 1 USD untuk menaiki bus bandara ini. Terlihat ada sekelompok turis Jepang pria separuh baya juga yang menghampiri halte bus. Ketika melihat mereka berjalan, sepintas teringat Arashi, boyband asal Jepang yang booming di era 2000an.

transportasi noi bai airport ke kota hanoi

Baca Juga: Rute Bus 86 dari Noi Bai Airport ke Pusat Kota Hanoi dan Stasiun Hanoi

Waktu tempuh menuju pusat kota (Old Quarter) memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam. Selama perjalanan, banyak sekali hal unik yang gue lihat, dari ribuan motor yang menguasai jalanan dengan pemotor menggunakah helm topi khasnya, sampai barber shop liar di samping jalan. Memasuki wilayah Old Quarter, jalan mulai sempit, beberapa motor yang melawan arus, dan terlihat banyak tube house khas Vietnam. Oh iya, gue juga sempat melihat billboard Ciputra Land di Hanoi, cuma ga sempet gue photo. Bangga juga, Ciputra bisa investasi real estate sampai ke Hanoi Vietnam. Mantapsss!

pangkas rambut di jalan hanoi vietnam

Setelah memasuki kawasan Old Quarter, kondektur mengarahkan gue untuk turun di halte 162 Trần Quang Khải. Dari halte ini menuju hostel yang gue booking (Hay Hostel), gue harus berjalan lagi sekitar 1,5km. Setelah melihat Google maps, ternyata halte 162 Trần Quang Khải sangat dekat dengan Giang Cafe, cafe yang terkenal di Hanoi dengan egg coffeenya. Yaudah, demi menghemat waktu dan energi, gue sekalian mampir dulu kesini.

Giang Cafe

Menyeruput secangkir egg coffe di Giang Cafe

Giang Cafe ini berada di sebuah gang kecil, jadi agak sulit menemukannya, sekaligus papan namanya pun kecil dan kurang kelihatan. Walaupun tempatnya kecil, Giang Cafe sangat ramai dengan pengunjung yang datang. Banyak traveler yang recommend cafe satu ini di TripAdvisor, makanya jangan heran kalau ga kebagian tempat duduk disini. Gue diarahkan untuk menuju lantai 2, karena di lantai pertama sudah sangat penuh. Menu disini isinya cuma minuman, dari kopi, teh, hingga beer. Giang Cafe ini emang diperuntukkan untuk tempat nongkrong sih. Nah salah satu ciri khas Vietnam disini, yaitu meja dan kursinya yang kecil. Jadi memaksa kita untuk duduk setengah jongkok.

Gue disini cuma memesan egg coffe saja, karena ga ada yang bisa dicemil. Vietnam egg coffee ini sangat mirip dengan kopi talua asal Sumatera, dimana kopi, susu, dan telor dijadikan satu. Yang berbeda hanya dari jenis kopinya saja, dimana kopi Vietnam biasanya lebih pahit dan asam. Satu gelas egg coffee ini memiliki harga 25,000 VND atau 15rb rupiah saja. Lebih murah dari kopi-kopi indie yang sudah bertebaran di Jakarta.

kopi telor vietnam

Setelah menikmati kopi talua versi negara Vietnam ini, gue lanjut jalan menuju hostel untuk drop barang terlebih dahulu. Jalanan Old Quarter ini sangatlah kecil, cukup untuk dilalui dua buah mobil saja. Begitupun pedestriannya yang tidak terlalu lebar. Hampir semua pedestrian di Old Quarter dijadikan tempat parkir motor. Jika kalian berjalan kaki di area Old Quarter, selalu hati-hati agar tidak keserempet motor maupun mobil.

Perjalanan menuju hostel, gue tidak sengaja melewati komplek area Hoam Kiem Lake dan St Joseph’s Cathedral. Tidak lupa gue mengambil beberapa photo walau cuma beberapa saat.

Oh iya. Selama di Hanoi, gue bermalam di Hay Hostel Hanoi selama 2 malam. Disini gue cuma merogoh kocek sebesar 12.60 USD saja untuk 2 malam untuk tidur di bunk bed campuran. Dengan harga segitu, gue udah dapat sarapan juga loh. So cheap lah ya untuk anak backpack. Ruangannya pun nyaman dan bersih, plus dapat loker, AC, dan wifi juga. Bunk bed nya pun disediain tirai, privasi masih tetep terjaga.

hostel murah di Hanoi Vietnam
Image from hostelbookers.com

Setelah drop ransel di hostel, gue langsung melanjutkan mengeksplorasi kota Hanoi. Hari pertama di Hanoi, gue berencana untuk wisata budaya dan sejarah terlebih dahulu. Pertama gue bakal mengunjungi komplek Thăng Long Imperial Citadel, yang merupakan bekas pusat kekaisaran di Hanoi dan merupakan salah satu UNESCO world heritage di Vietnam.

Kalian bisa menggunakan Grab-Bike menuju komplek Citadel. Jaraknya sekitar 2km aja dari pusat Old Quarter. Nah kalau gue, lebih memilih jalan kaki kesana, karena bisa lebih puas melihat suasana dan mengeksplorasi kota Hanoi. Namun bagi kalian pejalan kaki, harus tetap waspada ya dan jangan menerima tawaran apapun dari orang asing. Kebanyakan kasus scamming disini biasanya datang dari moda transportasi, seperti ojek pangkalan dan tukang becak. So selalu hati-hati ya.

Mencicip sandwich khas Vietnam (Bahn Mi)

Sebelum melanjutkan eksplorasi, gue singgah terlebih dahulu ke salah satu kedai bahn mi, tepat di depan hostel gue menginap. Itung-itung isi tenaga dulu, sebelum berjalan-jalan mengelilingi kota Hanoi. Disini gue pesan bahn mi ga (bahn mi ayam) dan ini pertama kali gue memakan bahn mi. I think it’s the best sandwich that i had ever eat. Roti baguette nya sangat crispy, dipadu dengan daging ayam yang tender dan bumbu khusus yang terasa manis pedas, memanjakkan banget lidah gue. Emang ga cukup sekali sih kalo coba bahn mi yang bener-bener asli dari Vietnam. Jika kalian tidak suka sayuran cilantro, kalian bisa request langsung ke pedagangnya. Bahn mi segede ini cuma dihargai 25,000 VND saja.

bahn mi ga vietnam

Mengunjungi Thăng Long Imperial Citadel

Setelah berjalan sekitar 30 menit-an dari hostel, nyampe juga ke komplek Thăng Long Imperial Citadel. Nyampe sini, gue langsung disambut dengan segerombolan mantan asian next top model yang memakai pakaian tradisional Ao Dai hahaha. Thăng Long Imperial Citadel ini buka setiap hari, kecuali hari senin. Tiket masuknya seharga 30,000 VND, cukup murah sih. Disini kalian bisa mengetahui sejarah kekaisaran Vietnam hingga sejarah warga Hanoi dalam mempertahankan kotanya ketika Vietnam war. Bagi kalian yang memang penikmat wisata sejarah, worthed sekali mengunjungi salah satu UNESCO world heritage ini. Selain itu kalian juga bisa berswafoto di taman bunga matahari nya juga.

Mengunjungi Ho Chi Minh Mausoleum dan One-Pillar Pagoda

Destinasi selanjutnya yang pengen gue kunjungi yaitu Ba Dinh Square, yang tidak jauh dari Thăng Long Imperial Citadel. Memakan waktu 7 menit perjalanan saja dari Thăng Long Imperial Citadel. Ba Dinh Square ini semacam alun-alunnya kota Hanoi, dimana di komplek ini terdapat terdapat makamnya Ho Chi Minh (Ho Chi Minh Mausoleum), Ho Chi Minh Museum, dan One-Pillar Pagoda. Kalian disini bisa menggali sejarah Vietnam lagi.

Disini gue ga berhasil memasuki area Ho Chi Minh Mausoleum, karena jam bukanya hanya pas pagi hari doang, dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Alhasil, gue cuma bisa mengabadikannya di bagian luarnya saja. Ho Chi Minh Mausoleum ini dijaga ketat sama security atau semacam prajurit penjaga. Sampai mau photo bangunannya pun, ada batas areanya.

Dari sini, gue langsung menuju area One-Pillar Pagoda, yang persis berada di belakang Ho Chi Minh Mausoleum. Kekecewaan gue langsung hilang ketika melihat pohon yang mirip dengan pohon sakura ketika berjalan menuju area One-Pillar Pagoda. Waw! Sakura also blooms in Southeast Asia. One-Pillar Pagoda ini merupakan temple kecil yang hanya ditahan oleh satu pilar beton saja. Biasanya orang-orang berdoa disini untuk meminta kemudahan dalam mencari rezeki.

Habis dari One-Pillar Pagoda, gue berniat mengunjungi Ho Chi Minh Museum. Namun sayang, museumnya tutup juga ketika jam siang. Alhasil yang awalnya gue berniat berlama-lama disini, cuma sebentar doang. Karena gue bingung mau ngapain lagi, gue buka Google maps buat cari attraction terdekat. Tidak jauh dari kompleks Ba Dinh Square, sekitar 2km, terdapat temple yang lumayan Instagramable dan reviewnya pun bagus di Google, yaitu Temple of Literature.

Baca Juga: Tempat Wisata di Hanoi Vietnam

Mengunjungi Temple of Literature

Gue memutuskan untuk berjalan kaki lagi menuju Temple of Literature, karena sisa waktu menuju sore hari masih banyak dan gue nya pun tergolong santai. Itung-itung bisa lebih merasakan suasana kota Hanoi dan bisa cuci mata juga hehe. Sesampai di lokasi, gue ga nyangka kalau tempatnya bakalan rame. Ternyata eh ternyata, memang lagi ada study tour pelajar disini. Temple of Literature ini buka setiap hari, dari jam 8 pagi sampai 4 sore. Harga tiket masuknya sekitar 30,000 VND. Kuil ini merupakan salah satu kuil di Vietnam yang didekasikan untuk para Confucius, cendekiawan, dan pelajar pada zaman kekaisaran Lý Thánh Tông.

Menyantap Pho Bo terenak di Hanoi

Setelah cape mengeksplor ke berbagai tempat wisata di Vietnam, perut gue pun udah ngeluh minta dikasih jatah. Sebelum pergi ke Vietnam, gue sempet research mengenai makanan enak yang ada di Hanoi. Gue baca rekomendasi dari food blogger Mark Wiens, dimana salah satu pho terlezat di Hanoi bukan berada di sebuah restoran, tapi dari penjual pho pedagang kaki lima yang berada di gang kecil dekat Hoan Kiem Lake, yaitu kedai Phở Thìn. Kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1955, dan masih ada hingga sekarang. Walaupun yang punya udah beda generasi, namun rasa otentiknya masih tersimpan di setiap suap Pho nya.

Di sini gue pesan Pho Bo (beef pho), dimana dagingnya sangat empuk. Pho disini memang enak menurut gue, versi beningnya aja udah enak. Jika kalian ga doyan sama sayuran, khususnya cilantro, better kalian request dulu ke penjualnya untuk ga pake sayuran. Kalian bisa tambahkan jeruk nipis, jika ingin Pho nya terasa lebih segar. Dan jika kalian penikmat pedas, disini menyediakan 2 jenis penambah pedas. Pertama irisan cabe yang pedasnya lumayan, dan satu lagi sejenis sambal yang terasa asam pedas. Harga satu mangkok besar Pho sekitar 50,000 VND, dan ini cukup untuk 2 porsi khusus cewe. Untuk versi mangkok kecilnya diberikan harga sekitar 30,000 VND.

Berjalan santai di Hoan Kiem Lake area

Setelah perut terpuaskan, gue berjalan santai di sekitaran Hoan Kiem Lake, yang dimana sangat ramai sekali dengan warga sekitar maupun turis. Selama weekend, kawasan Hoan Kiem Lake sengaja di tutup aksesnya beberapa untuk kendaraan bermotor. Hal ini dilakukan sengaja oleh pemerintah setempat, karena mereka ingin kawasan Hoan Kiem Lake ini menjadi pusat aktivitas warga Hanoi ketika pada hari libur. Kalian pun bisa ikut aktivitas mereka, asal kalian izin terlebih dulu. Walaupun beberapa orang Vietnam masih ada yang ga fasih berbahasa Inggris, mereka masih terbuka untuk komunikasi dengan turis/orang asing.

Setelah asik berjalan-jalan dan mengeksplorasi sudut-sudut kota Hanoi, gue balik ke hostel untuk check-in. Setelah melakukan proses check-in, gue langsung bersih-bersih dan beristirahat di bunk bed. Di kamar, gue sempat berbincang dengan old japanese man yang dimana dia sudah lama menetap di Hay Hostel. Sebenarnya banyak sekali orang asing yang menetap di Vietnam untuk menikmati masa tuanya, dikarenakan biaya hidup di Vietnam tergolong murah bagi mereka dan laju kehidupan pun bisa dibilang lebih lambat dibanding hidup di kota-kota modern.

Mencicip jajanan khas Vietnam dan membeli souvenir di Hanoi Weekend Night Market

Setelah puas beristirahat di hostel, sekitaran jam 7 malam gue berangkat menuju Hanoi Weekend Night Market. Hanya berjarak 300m saja dari hostel gue menginap. Night market selalu menjadi tempat favorit gue untuk dikunjungi, ke mana pun gue pergi. Selain mencari suvenir murah untuk oleh-oleh, gue pun bisa mencicipi makanan ringan dan makanan lokal di sini. Hanoi Weekend Night Market berada di pusat Old Quarter Hanoi, yang dimana kios-kios berjejer dari pasar Dong Xuan hingga Hoan Kiem Lake. Night market ini hanya buka pada akhir pekan saja, mulai dari jam 6 sore hingga selesai.

Disini gue mencoba jajanan khas Vietnam, dari grilled sticky rice, grilled chickenice bar khas Hoi An, hingga minuman telor kocok yang gue gatau namanya apa. Harga jajanan di Hanoi Weekend Night Market berkisar 10,000 VND – 30,000 VND. So, siapkan dompet kalian dan perut kalian, karena disini banyak sekali jajanan yang bisa kalian coba. Lalu jika kalian ingin membeli souvenir, lebih baik kalian membelinya di Hanoi Weekend Night Market aja daripada di toko-toko penjual souvenir. Harganya lebih murah, apalagi kalo kalian beli borongan atau lebih dari satu buah.

Setelah asik mencoba jajanan khas Vietnam dan berjalan dari ujung ke ujung nightmarket ini, gue pun balik lagi ke hostel untuk beristirahat lagi. Besoknya gue berencana pergi ke Ha Long Bay, yang dimana gue harus bangun pagi. Karena letak Ha Long Bay sangat jauh dari kota Hanoi, membutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan.

Baca keseruan cerita gue lainnya saat traveling ke Vietnam di bawah ini:

  1. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Hanoi [1]
  2. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Ha Long Bay [2]
  3. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Da Nang [3]
  4. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Hoi An [4]
  5. 9 Hari Traveling ke Vietnam: Dari Utara ke Selatan – Ho Chi Minh City [5]

Kalian bisa baca juga artikel seru lainnya mengenai Hanoi Vietnam disini: Hanoi Stories

Atau baca juga panduan yang gue buat ketika traveling ke Vietnam disini: Panduan Lengkap Traveling ke Vietnam

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *