Solo Traveling Pertama Ke Melaka [Part 1]

 Melaka memiliki kesamaan sejarah dengan Indonesia yang sama-sama pernah dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Dulu, Melaka merupakan pusat perdagangan di Asia Tenggara, banyak pedagang dari Arab, India, maupun China singgah di kota ini. Oleh karena itu, kota Melaka merupakan salah satu kota yang mempunyai multi budaya, dan didapuk sebagai world heritage city oleh UNESCO.

Hal diatas, merupakan salah satu alasan gue ingin mengunjungi Melaka. Gue ingin merasakan hidup di lingkungan multi budaya dan multi-religion, dan bagaimana mereka toleran dan menghargai terhadap satu sama lain. Sayangnya pada waktu itu, tidak ada satu pun temen gue yang mau ikut. So, gue pun memberanikan diri untuk solo traveling untuk pertama kalinya.

Salah satu challenge dari solo traveling yaitu kita sebisa mungkin menekan biaya traveling, karena tidak partner untuk share cost. Oleh karena itu, gue mempersiapkan mateng-mateng traveling kali ini. Gue list tempat wisata menarik di Melaka dan estimasi pengeluaran tiap mengunjungi tempat tersebut. Bisa dibilang itinerary yang gue bikin ini terlalu detail, ada temen gue ngatain bahwa itinerary yang gue bikin gila abis. Total biaya yang gue keluarkan untuk travel ke Melaka sekitar 2,400k IDR, itu sudah termasuk oleh-oleh, akomodasi, dan transportasi.

itinerary ke Melaka
Sneakpeak itinerary Melaka

Hari Pertama

Gue sengaja memilih penerbangan malam dari Jakarta karena harga tiketnya lebih murah. Selain itu, untuk menekan biaya akomodasi, gue sengaja numpang istirahat di KLIA2. Waktu itu gue beristirahat di mushola KLIA2, sambil menunggu waktu solat subuh dan jadwal keberangkatan bus paling pagi ke Melaka.

Hari Kedua

Setelah solat dan beristirahat cukup, gue pun langsung pergi menuju terminal bus KLIA2, agar mendapatkan bus pagi dengan rute perjalanan langsung ke Melaka dari bandara KLIA. Harga tiket bus menuju Melaka sekitar 24 MYR, dan itu menggunakan kelas eksekutif yang dimana tempat duduknya tergolong nyaman. Perjalanan menuju ke Terminal Bus Melaka Sentral menempuh waktu sekitar 2,5 jam, so gue manfaatin untuk beristirahat lagi.

bus ke Melaka
bus eksekutif menuju Melaka

Sesampai di Melaka Sentral, gue langsung menuju section bus domestik untuk melanjutkan perjalanan ke Jonker Walk, salah satu pusat wisata Melaka. Gue langsung menuju ke Gate 17 dan menunggu bus tujuan Jonker Walk beroperasi. Disini tidak disediakan loket tiket, so kalian harus antri di depan bus nya dan bayar langsung ke supirnya. Biasanya kalo lagi musim liburan, antrian bus menuju Jonker Walk cukup banyak. Untungnya gue berangkat ke Melaka saat hari kerja. Busnya sangat nyaman, seperti layaknya bus yang ada di TransJakarta.

Baca Juga : Panduan Lengkap Wisata ke Melaka

transportasi ke Melaka

Dalam perjalanan menuju Jonker Walk, gue sempat mengobrol sama Pak Cik asal Malaysia. Dia pernah bekerja di Indonesia, tepatnya di Medan selama kurang lebih 2 tahun. Yang gue kagetin, Pak Cik ini sangat update dengan berita politik di Indonesia, kita sempat ngobrol mengenai pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 waktu itu. Selain itu, gue juga mendapatkan teman baru asal Myanmar. Dia sedang melanjutkan kuliah disini dan dia sedang menuju kosan teman Myanmar yang lain untuk mengajak mereka berkeliling di Malaysia, khususnya Melaka.
Pak Cik dan Myanmar friend’s
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya gue nyampe di halte Bangunan Merah, yang merupakan salah satu tempat menarik di Melaka. Karena perut lapar, gue mengisi tenaga dulu sebelum mulai berkeliling di sekitar area Bangunan Merah. Waktu itu gue mampir ke Kedai Kopi Chung Wah, yang dimana sangat terkenal dengan chicken rice ball nya. Tempatnya sangat rame jika kalian datang pas jam makan siang, kadang orang-orang sampai antri panjang.
Kedai Kopi Chung Wah
Kedai Kopi Chung Wah
Habis mencicipi chicken rice ball, gue ke hostel terlebih dahulu dan izin ke pemiliknya untuk drop barang. Setelah itu, gue lanjut untuk mengitari tempat-tempat wisata menarik di Melaka. Tempat pertama yang gue kunjungi ialah Bangunan Merah.
Dulunya Bangunan Merah ini digunakan Belanda sebagai pusat pemerintahan mereka selama masa penjajahan. Sekarang bangunan ini dimanfaatkan oleh pemerintah lokal sebagai tempat wisata dan museum sejarah Melaka. Bangunan Merah ini sangat ramai dikunjungi turis lokal maupun mancanegara saat weekend, so alangkah baiknya kalian datang lebih cepat agar mendapatkan lokasi photo yang baik.
bangunan merah
Area Bangunan Merah

Sebenarnya, lokasi tempat-tempat wisata menarik di Melaka sangat berdekatan satu sama lain. Bangunan Merah ini menjadi pusat tempat wisata sejarah dan budaya Melaka. Kalian hanya tinggal berjalan kaki mengitari Bangunan Merah ini untuk mengunjungi tempat wisata yang lain, seperti A’Famosa, Bukit St. Paul, ataupun berbagai museum yang berada disini.

lokasi bangunan merah
Lokasi Bangunan Merah

Setelah itu, gue lanjut ke benteng A’Famosa. Dulunya benteng A’Famosa ini berdiri gagah mengelilingi bukit St. Paul, yang merupakan pusat pemerintahan penjajahan Portugis dan Belanda. Namun sayang, sekarang benteng A’Famosa tinggal sisa reruntuhannya saja, akibat serangan dari Inggris. Biasanya sewaktu weekend, ada musisi jalanan yang bernyanyi di dalam benteng A’Famosa.

benteng a'famosa

Selanjutnya, gue coba mengitari jalanan kota Melaka dan menikmati suasana kota Melaka dalam hari biasa. Yang gue salut dari penduduk Melaka, walaupun mereka berbeda ras, budaya, dan agama, dalam keseharian mereka saling menghormati dan toleransi. Alangkah indahnya kalau sikap toleransi ini membudaya di negeri sendiri hehehe. Gue melihat banyak anak sekolahan yang baru selesai sekolah, mereka saling bercanda ke sesama rekannya sambil menunggu jemputan orang tua.

Old chinese man sell snacks to the elementary schooler

Setelah asik berjalan mengelilingi jalanan kota Melaka, gue balik lagi ke hostel untuk check-in. Hostel yang gue tempati, yaitu Ola Lavanderia Cafe, yang aslinya merupakan sebuah cafe yang menyediakan makanan light meal, tetapi terdapat dormitory dibelakang yang berisikan 5 bunk beds. Harga sewanya pun sangat terjangkau, sekitar 36 MYR atau 120,000 IDR. Hostelnya memiliki konsep industrial, sangat instagramable sekali untuk diphoto.

Setelah check-in, bersiap-siap untuk membersihkan diri, karena waktu itu hari Jumat, selaku umat muslim wajib melakukan ibadah solat Jumat. Sehabis mandi, gue pun langsung pergi ke mesjid terdekat, yaitu Mesjid Kampung Kling yang dimana mesjid tertua kedua di Melaka. Yang unik dari Mesjid Kampung Kling ini, arsitekturnya hampir mirip dengan Mesjid Demak. Hal ini tidak heran, karena pada zaman dulu, orang-orang Jawa pernah bermukim disini untuk berdagang. Jadi mesjid ini ada nilai historisnya, dan pada hari biasa banyak turis juga mengunjungi mesjid ini.

Setelah selesai sholat Jumat, gue coba beristirahat dulu sebentar di hostel, menyiapkan energi dulu sebelum mengitari Melaka yang panas. Setelah itu gue pergi lagi menuju Bangunan Merah (Dutch Square), soalnya tadi cuma lewat doang tanpa photo-photo dan melihat museumnya satu-satu. Bangunan Merah ini cukup rame dikunjungi turis asing maupun lokal, apalagi waktu weekend. Salah satu trademark di area ini yaitu bangunan Christ Church Melaka, yang merupakan gereja yang dibangun oleh pemerintah Belanda waktu dulu #cmiiw. Gereja ini sudah lama tidak aktif dan sekarang digunakan oleh pemerintahan lokal sebagai museum. Jika kalian menyewa guide tour, kalian akan dijelaskan mengenai sejarah pendirian Christ Church ini.

 Seharian gue hanya mengelilingi area di sekitaran Bangunan Merah dan coba mengunjungi museum-museum yang ada disana. Salah satu museum yang gue kunjungi ialah Islamic Cultural Museum, hal ini dikarenakan gue ingin mengetahui sejarah penyebaran agama Islam di Melaka. Dulu para pedagang dari Arab dan Gujarat mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Melaka dan Nusantara. Pedagang dari Jawa punya andil juga dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Selanjutnya gue pergi ke St. Paul Hill, konon katanya disini salah satu best view untuk melihat langit sore Melaka. St. Paul Hill ini dulu dijadikan pusat kota A’Famosa sewaktu penjajahan Portugis. Disini juga terdapat gereja St. Paul Church yang sekarang hanya tinggal reruntuhannya saja, karena dulu sempat terkena bom meriam dari Inggris. Gue diam disini cukup lama, karena memang sengaja menunggu sunset ala Melaka.

st. paul hill
Sorenya Melaka yang masih terang

Setelah berhasil mengcapture indahnya langit sore Melaka di St. Paul Hill, gue lanjut pergi ke Jonker Street. Biasanya pada malam hari di hari Jumat sampai Minggu, terdapat night market di jalanan Jonker. Jonker Street night market ini merupakan salah satu main attraction wisata kota Melaka, banyak para turis sengaja mengunjungi salah satu pasar malam menarik di Melaka. Disini para pedagang banyak menjajakan jajanan dan makanan ringan khas Melaka. Disini gue banyak sekali mencoba jajanan Melaka, maklum setelah cape berkeliling Melaka. Gue merekomendasikan untuk mencoba coconut shake nya, sangat cocok untuk melepas dahaga dan mencairkan udara panas Melaka.

Setelah puas jajan dan bikin perut kenyang, gue balik lagi ke hostel. Gue pun langsung mandi, karena badan udah ga enak, kucel dan penuh keringat. Di dormitory, gue bertemu rekan sharing room. Disini gue mencoba berkenalan dengan teman backpacker lainnya dari negara lain, ada Kengo dari Jepang, Gie dari Singapura, dan Aizrak dari Kuala Lumpur. Disini kita saling sharing pengalaman mengenai traveling ke berbagai negara.

Kengo ini bisa cukup mengerti bahasa Indonesia, karena dulu dia sempat menetap sekitar 1 bulan di Indonesia dan mempunyai teman juga dari Indonesia. Dulu dia pernah tinggal di Bandung dan Yogyakarta, dia memang traveler sejati. Dia nomaden, selalu berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Ceritanya Kengo pernah hidup di Indonesia, dan sangat terkagum pada orang Indonesia, karena bisa bangun pagi (untuk solat subuh). Dia berencana akan lanjut travel ke India pada keesokan harinya.

Aizrak merupakan seorang mahasiswa, dia sengaja menghabiskan liburannya ke Melaka, sekedar untuk refreshing. Dia kesini bareng temannya, namun mereka berbeda tempat penginapan. Lalu ada Gie, seorang pekerja di perusahaan Singapura. Dia bercerita bahwa tiap tahun dia suka meluangkan untuk berlibur ala backpacker, tujuan sama seperti gue, yaitu menghilangkan kejenuhan akan kerja dan juga ingin melihat lebih luas mengenai kehidupan dan budaya di negara lain.

Gue cukup puas dengan pengalaman pertama gue dalam bersolo travel, karena sangat membukakan pikiran gue untuk bisa survive, adaptasi dan belajar untuk ramah dan bertanya kepada orang yang tidak dikenal. Yes, to travel is to open your mind!. Selain itu, gue pun disini belajar untuk coba berkenalan dan mengobrol dengan orang asing walaupun gue sendiri orangnya lumayan introvert dan tidak terlalu fasih dalam menggunakan bahasa Inggris.

Begitulah hari pertama gue di Melaka, selain menikmati tenangnya suasana kota Melaka dan keindahan arsitektur bangunannya, gue pun bisa mempunyai teman baru yang berbeda negara asal.

Solo Traveling Pertama ke Melaka Malaysia [Travel Journal]

Part 1 | Part 2

Kalian bisa baca artikel lain mengenai Melaka disini :

Sharing ke temanmu

6 Replies to “Solo Traveling Pertama Ke Melaka [Part 1]”

  1. Halo..kebetulan saya mau ke Malacca bulan Nov ini. Dr KLIA2 bus paling pagi ke Malacca jam berapa ya? Makasih.

    1. Hi Mas Nidi,
      Di KLIA2 ada 2 penyedia bus, jam 06:10 untuk Starmart Express dan jam 07:45 untuk Transnasional. Selengkapnya bisa baca artikel saya mengenai cara dan transportasi ke Melaka. Terima kasih.

  2. Pengalaman yang keren! Salute. Melaka emang ngangenin 😅

    1. Iyaaa betulll.
      Kalau menurut aku, Melaka tuh suasananya hampir sama kaya Yogyakarta.
      Suasananya tenang, slow life, dan orang-orangnya ramah.

  3. Wah, pas banget baca ini.. Aku bulan depan mau solo traveling juga ke Melaka nginap dua malam.. TFS ya Kak..

    1. wkwkwk pas banget berarti ya.
      Selamat solo traveling pertama :p
      2 malem cukup kok buat ngitarin Melaka sm jonker street!

Leave a Reply