Solo Traveling Pertama ke Melaka [Part 2]

sungai melaka malaysia
Bagikan artikel:

Hari Ketiga

Pada hari ketiga di solo traveling ke Melaka, gue berencana mau menikmati daily life dengan cara jalan-jalan mengitari Jonker Street dan menjelajahi sungai Melaka. Pertama gue sarapan terlebih dahulu di hostel gue nginep Ola Lavanderia Cafe, lumayan tiap pagi kita dapat free morning drink, tapi untuk light meal kita harus bayar sendiri. Sambil sarapan, gue ngobrol-ngobrol lagi sama Kengo mengenai pengalaman dia sewaktu di Indonesia. Dia bercerita kalo dia punya girlfriend / teman wanita di Bandung, kalo ga salah temannya ini merupakan salah satu mahasiswa terkenal di Bandung. Setelah asyik ngobrol, gue siap-siap untuk mandi sedangkan Kengo bersiap untuk packing karena hari ini merupakan hari terakhir dia di Melaka, sebelum dia pergi ke India.

breakfast Ola Lavanderia Cafe
Free juice and non-free sandwich

Untuk list pertama, gue bakal jalan keliling Jonker Walk dan kampung-kampung disekitarannya. Gue sengaja cari gang-gang kecil, biar kerasa jadi local people Melaka. Yang gue salut yaitu, warga sana cukup menjaga kebersihan lingkungannya, even gue masuk gang-gang kecil pun masih bersih.

 Setelah melewati gang-gang kecil, gue memasuki jalan utama dimana terdapat beberapa tempat ibadah seperti mesjid dan vihara. Pertama gue masuk ke vihara Cheng Hoon Teng, yang merupakan salah satu vihara Buddha tertua di Malaysia. Tidak jauh dari vihara Cheng Hoon Teng, terdapat mesjid Kampung Hulu, yang merupakan mesjid tertua kedua di Melaka. Sama seperti masjid lainnya di Melaka, mesjid Kampung Hulu memiliki kesamaan gaya arsitekturnya dengan Mesjid Demak di Indonesia. Dulu orang Jawa pernah berdagang di Melaka dan membawa budaya mereka kesini, tetapi ada juga orang Jawa yang masih menetap di Melaka.
 Setelah asik mengelilingi kampung-kampung yang ada disekitaran Jonker Walk, gue lanjut buat mencoba jalan di pedestrian sungai Melaka. Dikenal sebagai Venice from the east, sungai Melaka menawarkan keindahan tersendiri. Sewaktu gue jalan di siang hari, pedestrian sungai Melaka sangatlah sepi, cocok untuk jalan-jalan santai. Kalian bisa menggunakan sepeda untuk menikmati pedestrian sungai Melaka ini. Di sepanjang sungai Melaka, sangat banyak sekali mural art yang terlukiskan di rumah-rumah warga. Pengelolaan yang sangat baik dari pemerintah setempat, pedestrian sungai Melaka ini menurut gue bisa menjadi salah satu attraction di kota Melaka.
 Sewaktu gue berjalan di pedestrian sungai Melaka, gue ga sengaja berjalan menuju Little India. Little India ini merupakan sebuah jalan di dekat Jonker Walk yang dimana disini banyak pedagang-pedagang yang berjualan barang-barang khas India.
little india melaka

Sudah sekitar 2 jam gue berjalan mengitari jalanan kecil kota Melaka. Gue pun berniat rehat dulu ke hostel, sebelum melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain. Di hostel, gue bertemu teman-teman baru yang baru saja datang untuk menginap malam ini, ada Sine dan Mye dari Thailand dan juga Sherlin dari Kuala Lumpur. Sine dan Mye merupakan mahasiswa tingkat akhir dan memang lagi liburan ke Malaysia dan baru dari Putrajaya. Kata mereka, bangunan di Putrajaya lumayan bagus dan modern. Sedangkan Sherlin ini merupakan karyawan kantoran yang ingin menghilangkan penat kerja. Di hostel gue coba buat mandi lagi, karena cuaca pada waktu itu sangat terik, dan pakaian gue pun udah basah karena keringat.

Baca Juga : Tips Solo Traveling untuk Pertama Kali

Setelah cukup istirahat, gue pergi ke salah satu kafe hits di Melaka yaitu Calanthe Art untuk makan siang. Disini gue coba pesan menu yang ada ciri khas lokalnya, yaitu Melaka Blenz dan Gula Melaka Toast. Calanthe Art Cafe sejatinya merupakan coffee shop yang menyediakan berbagai pastry, jenis kopi, dan light meal. Oleh karena itu, gue merasa salah tempat untuk makan siang disini, soalnya kurang mengenyangkan perut setelah berjalan selama 2 jam tanpa henti. LOL.

Setelah makan siang gue coba mengunjungi museum Stadthuys yang dimana pada museum ini menceritakan sejarah Melaka dari awal pembentukan kerajaan, penjajahan, hingga kemerdekaan mereka. Melaka memiliki kesamaan sejarah dengan Indonesia yang sama-sama pernah dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Kalau kalian memang pecinta wisata sejarah, tidak ada salahnya berkunjung ke museum ini..

Baca Juga : Panduan Lengkap Wisata ke Melaka

Dari Stadthuys, gue lanjut menuju Menara Taming Sari. Menara Taming Sari ini merupakan menara pandang setinggi 110 meter dan berjenis Gyro, sehingga kalian bisa melihat pemandangan kota Melaka dari atas dan berbagai arah. Harga tiket masuk Menara Taming Sari sekitar 23 MYR. Kalian bisa menikmati sunset Melaka dengan menaiki Menara satu ini, cuma biasanya pada sore hari, pengunjung mulai padat. 

Lanjut dari Menara Taming Sari, gue berlabuh ke Dataran Pahlawan Mall untuk mencari udara sejuk dan tentu saja makan, karena makan siang di Calanthe Art kurang memuaskan perut. Tempat makan yang cocok di luar negeri dengan lidah gue mana lagi kalau bukan junkfood, so akhirnya gue memilih McD. Sambal McD di Malaysia memang agak lebih masam dan kurang pedas dibandingkan dengan punya Indonesia, alangkah baiknya kalian bawa sambal sendiri ke Malaysia. LOL.

Tujuan selanjutnya, gue coba pengen mengunjungi Mesjid Selat Malaka yang berada di pulau reklamasi Melaka. Kalau dilihat dari Google Maps sih cuma berjarak 3km dari Dataran Pahlawan dan hanya menempuh waktu setengah jam kalau berjalan kaki. Yasudahlah, gue pun berencana berjalan kaki kesana, toh lumayan olahraga karena di Indonesia sendiri gue jarang berolahraga.

Setengah jam berlalu setelah gue berjalan, ternyata masih belum sampai juga hahaha. Gue sarankan sih bagi kalian yang ingin menuju ke Mesjid Selat Melaka harus membawa kendaraan, minimal sepeda, karena perjalanannya cukup lama. Sewa sepeda di Melaka lumayan juga harganya, sekitar 10-20 MYR tergantung provider sama lama penggunaannya. Gue sendiri menempuh sekitar 1 jam untuk berjalan kesana dari Dataran Pahlawan.

Mesjid Selat Melaka ini sudah menjadi ikon wisata di kota Melaka, banyak turis asing juga datang kesini, even yang non-muslim pun banyak berkunjung ke mesjid tepi laut ini. Lumayan bagus mesjidnya, sore hari merupakan waktu yang cocok untuk menikmati pemandangan mesjid yang berlatarkan sunset. Semua orang bisa masuk ke mesjid asal berpakaian rapi dan tertutup, di mesjid ini pun menyediakan semacam jubah untuk para pengunjung yang ingin memasuki mesjid. Gue menyempatkan beribadah dulu disini, sebelum balik jalan lagi ke area Bangunan Merah. 

Habis dari Mesjid Selat Malaka, gue langsung menuju ke area sungai Melaka. Keindahan sungai Melaka tidak hanya bisa dinikmati sewaktu siang aja, pada malam hari di sepanjang sungai Melaka sangat ramai. Kenapa? Hal ini karena pada malam hari di sepanjang sungai Melaka, lampu-lampu hias sudah menyala dan bar-bar kecil sudah buka. Dengan membayar sekitar 21.20 MYR, kalian bisa menikmati keindahan sungai Melaka pada malam hari dengan menaiki Melaka River Cruise.

Setelah cape seharian jalan, gue pergi ke tempat makan Pak Putra Tandoori karena ingin mencoba makanan khas India Pakistan. Letaknya tidak terlalu jauh dengan Jonker Walk, kalian masih bisa berjalan menuju sana. Pak Putra Tandoori tiap malam suka ramai, kalian harus pinter-pinter cari tempat kosong. Disini kalian harus aktif bertanya pada pramusaji, karena saking sibuknya mereka, biasanya kalian jarang didatangi oleh mereka. Disini gue coba pesan Tandoori Chicken, Triple Cheese Naan, dan Watermelon juice.

pak putra tandoori chicken

Sewaktu makan, gue dideketin sama pasangan bule Amerika bernama Jamie dan Seldom. Mereka ga kebagian tempat duduk, so mereka meminta gue untuk sharing tempat. Well, karena gue ga punya temen ngobrol juga, gue mempersilahkan mereka untuk duduk semeja sama gue. Ceritanya mereka lagi liburan panjang sekali. Pasangan bule ini nekat untuk berhenti kerja untuk traveling ke berbagai negara di Southeast Asia. Anyone, ada berani kaya mereka keluar dari comfort zone buat traveling?

Mereka habis liburan dari Thailand dan Vietnam, dan rencananya sehabis dari Malaysia, mereka mau pergi ke Lombok dan Bali selama sebulan penuh. Mereka pun sempat bertanya soal pekerjaan di Indonesia, apakah mudah cari kerja di Indo. Well, gue sih menjelaskan kalo cari kerja di Indo itu gampang susah, tergantung elo punya skill apa dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut. General sekali ya jawabannya hahaha.

Sehabis makan malam, gue langsung balik ke hostel karena badan udah remuk, jalan terus tanpa henti seharian. Di hostel gue ketemu lagi Gie dari Singapura, lalu ada 3 pengunjung baru, yaitu Mye dan Sine dari Thailand, dan juga Sherlin dari Kuala Lumpur. Seperti malam sebelumnya, di dormitory kita saling menceritakan pengalaman traveling masing-masing. Berhubung semuanya pernah ke Thailand, obrolan fokus ke objek wisata Thailand. Gie dan gue lebih menceritakan wisata mainstream di Thailand, sedangkan para cewe sangat excited klo menceritakan tentang belanja murah di Bangkok. Ada sekitar 1 jam lebih kita saling sharing cerita.

Begitulah cerita hari ketiga gue di Melaka.

Hari Keempat

Menikmati pagi hari di hari terakhir gue di Melaka, gue hanya berjalan santai disekitaran hostel. Selain itu berphoto-photo ke sebagian tempat yang masih belum sempat gue photo. Tidak jauh dari hostel, terdapat mural art yang lumayan bagus untuk gue abadikan.

 Setelah itu, gue balik lagi ke hostel untuk siap-siap pulang. Kebetulan pada hari itu juga hari terakhir Mye dan Sine di Melaka. Mereka mengajak gue untuk ikut mereka menggunakan Uber ke Melaka Sentral (pusat terminal bus di Melaka). Di Melaka Sentral, kita sama-sama mencari bus tujuan langsung ke bandara KLIA2. Di bandara, gue mengajak mereka untuk mencari oleh-oleh khas Malaysia, salah satunya Berryls. Setelah itu, kita berpisah karena jam keberangkatan mereka lebih cepat daripada gue.

Bisa dibilang, traveling ke Melaka ini merupakan sangat terencana sekali, soalnya gue hanya menghabiskan duit sekitar 2,4 juta IDR aja. Murah kan? Tapi itu tergantung dari pengeluaran masing-masing sih, sama promo harga tiket pesawat.

Menurut gue, jika kalian berniat untuk solo traveling, alangkah baiknya untuk berpikir lagi jika kalian belum siap. Belum siap untuk ketagihan. Dibandingkan travel dengan banyak orang, solo traveling sangat fleksibel sekali dan kita bisa memilih tempat wisata sesuai dengan yang kita mau tanpa bergantung ke orang lain. Selain itu, solo traveling mengajarkan kita untuk tidak malu untuk bertanya, karena kita ga ada pegangan kita harus aktif untuk mengobrol sama orang asing. Disini gue sendiri sangat senang, karena bisa mendapatkan teman baru yang berbeda kultur dan negara, hal ini mengajarkan kita untuk menghargai ke semua orang, even itu beda ras, suku, dan agama. Hal inilah yang patut kita ajarkan ke orang-orang yang masih rasis dan hanya menghargai pada ke kelompoknya sendiri.

—————————————————

Kalau ada yang mau tanya-tanya mengenai bagaimana solo traveling di Melaka atau pertanyaan apapun, silahkan komen ya! Atau bisa direct message ke instagram @yuntiwa. Thanks!

Solo Traveling Pertama ke Melaka Malaysia [Travel Journal]

Part 1 | Part 2

Kalian bisa baca artikel lain mengenai Melaka disini :

You may also like

6 Komentar

    1. Iya, sekarang udah mulai bersih sungainya.
      Ada dukungan dari pemerintah lokalnya untuk ningkatin pariwisatanya.
      Nabung 500rb sebulan aja, 6 bulan ke kumpul bisa kok pergi.

  1. im going solo for first time too this month-end, from borneo. ur journal helps a lot since it’s still so fresh. thanks for writing

    1. Hi Sahara, nice to meet you.

      Wawwww. I always amaze when female traveler try to going solo.
      Melaka is solo traveler-friendly, especially when you are from Indonesia.
      Most Melaka’s people can speaks Melayu, you also can mix the language between Indo and English.
      They are really friendly and always smile compared to KL people.

      Have a nice trip!

  2. Waah, puas banget 4 hari di sana ya Kak.. Ke Malaka aku pingin banget nyobain cruise-nya, menara Taming Sari, sama ke museum-museum yang ada di sana.. 😀 Ini kotanya keliatan emang sepi ya Kak? Tapi aman kan ya kalo solo traveling di sana?

    1. Puas banget sih mba.
      Apalagi buat rehat sm ngilangin jenuh dari kerja.
      Enak buat wisata kuliner juga, street food nya pun enak.
      Jangan lupa ke jonker street night market pas weeekend.

      Cruisenya recommended pas malem mba, soalnya sungai melakanya bagus klo pas malem.
      Klo di bandingkan Penang sih msh sepi, cuma klo d tempat wisatanya, kaya dutch square, suka penuh klo weekend.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *