Wisata di Pulau Payung [Travel Journal]

objek wisata kepulauan seribu
Bagikan ke temanmu:

Jakarta memiliki tempat rekreasi yang terbilang cukup sedikit. Berbanding terbalik dengan jumlah mall-mall yang bertebaran di setiap titik ibu kota. Oleh karena itu, gue suka bingung, bagaimana cara menghabiskan waktu saat weekend. Untungnya gue punya rekan kerja di kantor baru, yang dulu sempat punya sampingan open trip. Sebut saja dia Tiko. Tiko ini bisa dibilang sebagai trip leader di kantor gue. Dia punya banyak koneksi dengan agen-agen wisata, khususnya di Kepulauan Seribu. Sehingga total biaya wisata di Pulau Payung terbilang cukup murah, yaitu Rp. 300 ribu saja per orang.

wisata di pulau payung
Sunrise di Danau Asmara, Pulau Payung

Meeting point kita berada di Dermaga Kaliadem, Muara Angke. Kita sengaja datang lebih pagi, agar dapat tempat yang enak di kapal. Kapal yang kita tumpangi sebenarnya menuju Pulau Tidung, tapi berlabuh terlebih dulu di Pulau Payung.

Selama 2 jam perjalanan, akhirnya kita sampai di dermaga Pulau Payung. Dermaganya kecil, tapi lumayan bagus. Kesan pertama terhadap pulau ini, yaitu suasananya enak, sepi, dan fresh banget. Berbanding terbalik dengan pulau tetangganya, Pulau Tidung, dimana pengunjungnya udah ramai sekali.

wisata di pulau payung
Dermaga Pulau Payung

Sebelum menuju homestay, gue berkeliling dulu, melihat-lihat pulau dan sekitarnya. Gue melihat tanda larangan masuk di dekat dermaga. Setelah bertanya ke local guide, ternyata Pulau Payung merupakan pulau milik pribadi. Pulau Payung sendiri dibagi  menjadi dua, yaitu Pulau Payung Besar dan Pulau Payung Kecil. Hanya sebagian kecil dari Pulau Payung Besar yang bisa dihuni penduduk, selebihnya merupakan private area. Setelah itu gue langsung menuju homestay. Kita rehat sejenak sampai tengah siang, sebelum melakukan aktivitas selanjutnya.

wisata di pulau payung
Private area di Pulau Payung

Jam 1 siang, kita balik lagi ke dermaga, persiapan menuju snorkling spot di ujung Pulau Payung Besar dengan menggunakan perahu kecil. Untuk snorkling spot nya sendiri lumayan bagus dan masih jernih dibandingkan dengan snorkling spot di Pulau Tidung. Terumbu karang di spot ini sudah banyak yang rusak dan mati. Tapi ada satu area yang masih dijaga dan dilarang untuk snorkling kesana, karena untuk menjaga terumbu karang yang masih bagus.

snorkling di Pulau payung
Tim Snorkling
snorkling di Pulau payung
Who is he?
snorkling di Pulau payung
Snorkling di Pulau Payung

Selanjutnya, kita menuju Pulau Payung Kecil untuk snorkling dan berphoto-photo ria. Pulau Payung Kecil ternyata hanya sebatas pasir gosong (gundukan pasir), tapi lumayan worthed untuk dijadiin spot berphoto-photo. Gue sarankan sih untuk bawa sandal atau sepatu, jika ingin berlabuh di Pulau Payung Kecil, karena di sekitaran pulau banyak pecahan koral dan terumbu karang. Sehingga effort  banget kalau mau jalan-jalan di Pulau Payung Kecil tanpa alas kaki. Gue sendiri mengalami luka dan sayatan kecil dibagian telapak kaki, karena ga pake alas kaki.

snorkling di Pulau payung
Spotnya lumayan Instagram-able
snorkling di Pulau payung
Photo group di Pulau Payung Kecil

Selanjutnya, kita pergi ke Pulau Tidung untuk bermain watersport. Jarak Pulau Payung menuju Pulau Tidung tergolong dekat, hanya memakan waktu perjalanan selama 15-20 menit. Berbeda dengan yang lain, gue menghabiskan waktu di Pulau Tidung untuk beristirahat. Maklum, snorkling di dua tempat cukup menguras tenaga bagi orang yang jarang berolahraga.

Selama beristirahat, Gue cuma berkeliling mencari makanan. Karena saat lelah, nafsu makan gue jadi tinggi. Kalau tidak salah, Gue melahap indomie goreng, otak-otak ikan tenggiri, dan siomay. Tapi tetep, tidak ada yang bisa ngalahin rasa Indomie Goreng sewaktu cape dan laper.

Artikel Serupa :  

[Journal] Hopping Islands ke Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir

Setelah itu, kita balik lagi ke homestay karena waktu udah mulai larut. Dalam perjalanan pulang ke Pulau Payung, secara tidak sengaja kita melihat segerombolan lumba-lumba hidung botol. Ini pertama kalinya gue melihat lumba-lumba hidup di alam liar. Sayang sekali, gue ga bisa mengabadikan momen ini, dikarenakan jarak kapal kita dengan lumba-lumba cukup jauh. Sesampai di Pulau Payung, kita rehat kembali sampai jam makan malam tiba.

Sekitar jam 8 malam, local guide mengajak kita ke pesisir pantai untuk menikmati BBQ. Sambil menunggu BBQ matang, kita luangkan waktu untuk wefie dan juga nyanyi-nyanyi ga jelas. Gue sangat puas dengan BBQ yang disediakan local guide, karena ikan dan cumi bakarnya sangat enak. Tingkat kematangannya cukup bagus, selain itu ikan dan cumi yang dibakar merupakan hasil tangkapan tadi pagi hari. Sehingga rasanya pun masih fresh, apalagi memakai sambal kecap cabe yang telah mereka sediakan. Maknyus!

wisata di pulau payung
Wefie dulu sambil nunggu BBQ matang
wisata kuliner di pulau payung
Ikan dan cumi bakar, fresh from grill

Setelah menikmati malam di pesisir pantai Pulau Payung, gue memilih untuk pulang ke homestay duluan untuk beristirahat, persiapan untuk melihat sunrise di pagi buta.

Sekitar jam 5.20, gue udah keluar dari homestay bersama teman-teman lainnya untuk mengejar momen sunrise. Usaha gue ternyata ga sia-sia, saya bisa mengabadikan indahnya momen sunrise, yang dimana refleksi cahaya sunrise memantul di Danau Asmara.

Setelah mengabadikan momen sunrise, gue mencoba berkeliling di sekitaran dermaga. Gue mencoba meluncur menuju mercusuar Pulau Payung. Gue mencoba berbincang dengan penjaga mercusuar sebelum mengambil photo-photo disekitaran mercusuar. Sayang sekali, beliau tidak mengizinkan siapapun untuk diperbolehkan menaiki mercusuar dengan alasan keselamatan. Alhasil, gue hanya memotret mercusuar dari bawah saja. Selain itu saya mencoba mengambil photo-photo di sekitaran area mercusuar dan dermaga.

A photo posted by Moh. Yuntiwa Ramdhan (@yuntiwa) on
wisata di pulau payung
Deretan kapal di dermaga Pulau Payung
wisata di pulau payung
Empty chair in Pulau Payung
wisata di pulau payung
Area dermaga Pulau Payung

Setelah puas mengambil beberapa photo, gue balik lagi ke homestay untuk sarapan, mandi, packing, dan bersiap pulang ke pusat kota Jakarta. Seperti yang pernah gue ceritakan diatas, tidak ada kapal yang langsung dari Muara Angke ke Pulau Payung. So, kita menunggu jemputan kapal dari Pulau Tidung. Sambil nunggu kapal datang, kita menyempatkan photo group dulu sebagai kenangan terakhir sebelum meninggalkan Pulau Payung.

wisata di pulau payung
Menunggu jemputan kapal
wisata di pulau payung
Back to the reality

See you on next travel journal!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *